BIARLAH AKU YANG ROBEK DAN HANCUR
DARIPADA HARUS TERJADI PERANG SAUDARA !!!
MPRS menunjuk Soeharto sebagai Presiden RI...
Bung Karno menerima surat untuk segera
meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam.
Bung Karno dengan wajah sedih membaca surat
pengusiran itu. Ia sama sekali tidak diberi waktu
untuk menginventarisir barang-barang pribadinya.
Wajah-wajah tentara yang diperintahkan Suharto
untuk mengusir Bung Karno tidak bersahabat
lagi."Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini
dalam waktu dua hari dari sekarang".
Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat
Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu.
"Mana kakak-kakakmu?" kata Bung Karno.
Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata ,
"Mereka pergi ke rumah Ibu" rumah Ibu yang
dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan
Sriwijaya, Kebayoran Baru.
Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak
sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kamu
persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil
lukisan atau hal lain, itu punya negara,".
Kata Bung Karno lalu ia pergi ke ruang depan dan
mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang
setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan,
ia maklum, ajudan itu sudah ditangkapi karena
diduga terlibat Gestapu.
"Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi,
kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan
itu, souvenir, dan macam-macam barang itu milik
negara".
Semua ajudan menangis Bung Karno mau pergi,
"Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu
bapak tidak melawan" salah satu ajudan hampir
berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno.
"Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang
saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang
dengan Belanda kita jelas hidungnya beda dengan
hidung kita, perang dengan bangsa sendiri
tidak..lebih baik saya yang robek dan hancur
daripada bangsa saya harus perang saudara".
Beberapa orang dari dapur berlarian saat tahu
Bung Karno mau pergi, mereka bilang "Pak kami
tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak
enak bila bapak pergi belum makan. Biarlah kami
patungan dari uang kami untuk masak agak enak
dari biasanya"
Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh
basi tiga hari itu malah enak, kalian masak sayur
lodeh saja. Aku ini perlunya apa...."
Di hari kedua saat Bung Karno sedang
membenahi baju-bajunya datang seorang perwira
suruhan Orde Baru. "Pak, bapak segera
meninggalkan tempat ini"
Beberapa tentara sudah memasuki beberapa
ruangan. Dalam pikiran Bung Karno yang ia takuti
adalah bendera pusaka. Ia ke dalam ruang
membungkus bendera pusaka dengan kertas
koran lalu ia masukkan bendera itu ke dalam baju
yang dikenakannya di dalam kaos oblong, Bung
Karno tahu bendera pusaka tidak akan dirawat
oleh rezim ini dengan benar.
Bung Karno lalu menoleh pada ajudannya Saelan.
"Aku pergi dulu" kata Bung Karno hanya dengan
mengenakan kaus oblong putih dan celana
panjang hitam.
"Bapak tidak berpakaian dulu" Bung Karno
mengibaskan tangannya, ia terburu buru. Dan ke
luar dari Istana dengan naik mobil VW kodok, ia
minta diantarkan ke rumah Ibu Fatmawati di
Sriwijaya, Kebayoran.
Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk
seharian saja di pojokan halaman, matanya
kosong. Ia sudah meminta agar Bendera Pusaka
itu dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya
mengguntingi daun-daun yang tumbuh di
halaman.
Kadang-kadang ia memegang dadanya, Ia sakit
ginjal para,h namun obat-obatan yang biasanya
diberikan tidak kunjung diberikan. Hanya
beberapa minggu Bung Karno di Sriwijaya, tiba-
tiba datang satu truk tentara ke rumah Sriwijaya.
Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang
bernama Nitri yang orang Bali untuk jalan-jalan.
Saat melihat duku Bung Karno bilang "Aku pengen
duku.. Tri, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang"
Nitri yang uangnya juga sedikit ngelihat
dompetnya, ia cukup uang untuk beli duku. Lalu
Nitri mendatangi tukang duku dan berkata "Pak
bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil"
Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke Bung
Karno "Mau pilih mana Pak, manis-manis nih"
kata Tukang Duku dengan logat betawi.
Bung Karno berkata "Coba kamu cari yang enak"
Tukang Duku-nya merasa sangat akrab dengan
suara itu dan dia berteriak "Lha itu kan suara
Bapak...Bapak...Bapak"
Tukang Duku berlari ke teman-temannya
pedagang "Ada Pak Karno...ada Pak Karno"
serentak banyak orang di pasar mengelilingi Bung
Karno. Bung Karno tertawa, tapi dalam hati ia
takut orang ini akan jadi sasaran tentara, karena
disangka mereka akan mendukung Bung Karno.
"Tri cepat jalan".....
Mendengar Bung Karno sering ke luar rumah,
maka tentara dengan cepat memerintahkan Bung
Karno diasingkan.
Di Bogor, dia diasingkan ke Istana Batu Tulis dan
dirawat oleh: Dokter Hewan .....
Lalu Rachmawati datang dan melihat ayahnya, ia
menangis keras-keras saat tahu wajah ayahnya
bengkak-bengkak dan sulit jalan, Rachmawati
adalah puteri Bung Karno yang paling nekat.
Malamnya ia memohon pada bapaknya agar pergi
ke Jakarta saja dan dirawat keluarga.
"Coba aku tulis surat permohonan pada Presiden"
kata Bung Karno dengan mengucurkan air mata.
Dia menulis surat dengan tangan bergetar, dan
pagi-pagi sekali Rachma ke Cendana, rumah
Suharto.
Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget karena
ada Rachma di sana. Bu Tien memeluk Rachma
dan di saat itu Rachma bercerita tentang nasib
bapaknya, hati Bu Tien rada tersentuh dan
menggenggam tangan Rachma lalu membawanya
ke atas, ke ruang kerja Pak Harto.
"Lho Mbak Rachma ada apa?" Kata Pak Harto
dengan nada santun,
Rachma-pun menceritakan kondisi ayahnya.
Pak Harto berpikir sejenak dan dia menuliskan
memo untuk diperintahkan kepada anak
buahnya, agar lalu dia dipindahkan ke Wisma
Yaso, yang sama sekali tidak terawat. Kamar Bung
Karno sudah berantakan sekali, bau dan tidak
diurus. Bung Karno tidak boleh ke luar kamar.
Seringkali ia dibentak bila akan melakukan
sesuatu.
Dokter yang diperintahkan untuk merawat,
Profesor Mahar Mardjono sampai mau menangis,
saat tahu bahwa semua obat-obatan yang biasa
digunakan oleh Bung Karno, dibersihkan dari laci
obat atas dasar perintah Perwira Tinggi.
Mahar hanya bisa memberikan vitamin dan Royal
Jelly, yang sesungguhnya adalah madu. Jika sulit
tidur, dia diberi valium, Sukarno tidak diberikan
obat, bila terjadi pembengkakan ginjal.
Rumor yang mengatakan Bung Karno hidup
sengsara, banyak beredar di masyarakat,
Beberapa orang diketahui akan nekat
membebaskan Bung Karno, tapi penjagaan sangat
ketat.
Pada awal tahun 1970, Bung Karno datang ke
rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan
Rachmawati. Muka Bung Karno sudah bengkak.
Ketika banyak orang tahu Bung Karno datang ke
rumah itu, orang banyak berteriak "Hidup Bung
Karno ... Hidup Bung Karno ... Hidup Bung
Karno !!!"
Sukarno yang reflek, karena ia tahu benar dengan
suasana gegap gempita, tertawa dan
melambaikan tangan, Tapi, dengan kasar tentara
menurunkan tangan Sukarno, dan menggiringnya
ke dalam. Bung Karno paham, dia adalah tahanan
politik.
Masuk ke bulan Februari, penyakit Bung Karno
parah sekali, Ia tidak kuat berdiri, Tidur saja,
Tidak boleh ada orang yang bisa masuk.
Ia sering berteriak kesakitan, biasanya penderita
penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis
yang kacau. Ia berteriak "sakit ... sakit ya Allah .."
Tapi tentara terpaksa diam saja, karena disuruh
komandan, Sampai ada salah satu tentara yang
sampai menangis, mendengar teriakan Bung
Karno di dalam kamar, sambil tangannya
memegang senjata.
Kepentingan politik tak mungkin bisa
membendung rasa kemanusiaan, dan air mata
adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan
itu. Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno
menulis surat pada Suharto, dan mengecam cara
merawat Sukarno.
Di rumah Hatta duduk di beranda, ia menangis
diam-diam mengenang sahabatnya itu.
Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi, untuk
bertemu dengan Bung Karno. "Kakak tidak
mungkin bisa ke sana, Bung Karno sudah jadi
tahanan politik"
Hatta menoleh pada isterinya "Sukarno adalah
orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku,
Kami pernah dibesarkan dalam suasana yang
sama, agar negeri ini merdeka. Bila memang ada
perbedaan di antara kita, itu lumrah, tapi aku tak
tahan mendengar berita Sukarno terlalu sakit
seperti ini".
Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada
Suharto, untuk bertemu Sukarno, Ajaibnya surat
Hatta langsung disetujui, ia boleh menjenguk
Sukarno.
Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno
yang sudah hampir tidak sadar, Tubuhnya tidak
kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka
matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan
"Bagaimana kabarmu, No"kata Hatta, Ia tercekat,
mata Hatta sudah basah.
Bung Karno berkata pelan dan tangannya
berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met
Jou" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda -
Bagaimana pula kabarmu, Hatta- .
Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan
mendekatkan wajahnya, Air mata Hatta mengenai
wajah Bung Karno, dan Bung Karno menangis
seperti anak kecil.
Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah
kamar yang bau dan rusak, Kamar yang menjadi
saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa
ini, di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, Suatu
hubungan yang menyesakkan dada.
Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno
meninggal. Sama saat Proklamasi 1945, Bung
Karno menunggui Hatta di kamar, untuk segera
membacai Proklamasi, Saat kematiannya, Bung
Karno juga menunggu Hatta dulu, baru ia
berangkat menemui Tuhan.
Mendengar kematian Bung Karno rakyat berjejer-
jejer di jalan. Rakyat Indonesia dalam kondisi
bingung. Banyak rumah yang orang-orangnya
menangis karena Bung Karno meninggal.
Tapi tentara memerintahkan agar jangan ada
rakyat yang hadir di pemakaman Bung Karno.
Bung Karno ingin dikesankan sebagai pribadi yang
senyap. Tapi, sejarah akan kenangan tidak bisa
dibohongi. Rakyat tetap saja melawan untuk
hadir.
Hampir 5 kilometer orang antre untuk melihat
wajah Bung Karno, Di pinggir jalan Gatot Subroto,
banyak orang berteriak menangis. Di Jawa Timur
tentara yang melarang rakyat melihat jenasah
Bung Karno, menolak dengan hanya duduk-duduk
di pinggir jalan, Mereka diusiri, tapi datang lagi.
Begitu cintanya rakyat Indonesia pada Bapaknya.
Tahu sikap rakyat seperti itu, akhirnya tentara
menyerah.
Jutaan orang Indonesia berhamburan di jalan-
jalan pada 21 Juni 1970. Hampir semua orang
Indonesia yang rajin menulis catatan hariannya,
pasti mencatat tanggal itu sebagai tanggal
meninggalnya Bung Karno dengan rasa sedih,
Koran-koran yang isinya hanya menjelek-jelekkan
Bung Karno, sontak tulisannya memuja Bung
Karno.
Bung Karno yang sewaktu sakit dirawat oleh
dokter hewan, tidak diperlakukan secara
manusiawi, Meninggalnya, dengan cara yang
agung. Jutaan rakyat berjejer di pinggir jalan,
Mereka datang karena cinta, bukan paksaan.
Dan sejarah menjadi saksi bagaimana sebuah
bangsa memperlakukan orang yang kalah. Walau
pun orang yang kalah, adalah orang yang
memerdekakan bangsanya, Orang yang menjadi
alasan terbesar, kenapa Indonesia harus berdiri.
Tapi diperlakukan layaknya binatang, Semoga. kita
tidak mengulangi kesalahan seperti itu...
HIDUP SOEKARNO..!!!
HIDUP MARHEIN..!!!
MERDEKA..!!!
